37. Mate Pupur / Diparalang – Alangan

1. Pengertian
Disebut mate pupur atau diparalang-alangan bila yang meninggal suami atau isteri tapi belum mempunyai anak atau keturunan. Usia pernikahan mate pupur lebih lama dari pada yang mate diparalang-alangan.

Bila suami yang meninggal, biasanya hula-hula mempertanyakan kedudukan selanjutnya dari borunya, apakah masih dipertahankan oleh keluarga laki-laki dalam keluarganya atau diberikan kebebasan untuk meninggalkan keluarga tersebut.

Pada mate pupur dan mate diparalang-alangan dilaksanakan acara adat, karena tulang dan hula hula sudah terlibat yaitu memberi ulos saput kepada berenya yang meninggal dan hula hula memberi ulos tujung kepada borunya atau sebaliknya. Kalau istri yang meninggal ulos saput dari hula hula dan ulos tujung dari tulangnya yang meninggal.


2. Peserta
Terdiri dari :
  1. Suhut
  2. Dongan sabutuha/tubu
  3. Boru/bere
  4. Dongan sahuta/ ale ale
  5. Pemerintah setempat


3. Perlengkapan
  1. Peti mati
  2. Mobil ambulans
  3. Surat kematian dari rumah sakit dan kelurahan
  4. Tanah pemakaman
  5. Makanan ala kadarnya, sebaiknya ada na margoarna tetapi bukan makanan adat


4. Tertib Acara
Pasada Tahi
adalah musyawarah bona hasuhuton, dongan tubu yang paham tentang adat tu na monding, boru/bere dongan sahuta untuk merencanakan waktu dan tempat pemakaman, surat-surat yang diperlukan, peti mati, maupun pemberitahuan kepada sanak keluarga terutama kepada hula hula dan tulang termasuk usul status yang meninggal untuk dibawa dalam acara marrapot.


Marrapot
terlebih dahulu suhut paidua mengatur tempat duduk sesuai dengan kedudukan masing-masing dalam dalihan natolu dan sihal-sihal (dongan sahuta)
  1. Pembukaan oleh suhut paidua dan meminta kepada haha-anggi siapa yang akan menyampaikan semua rencana acara dan meminta nasehat dari hula hula mengenai pemberangkatan almarhum ke tempat peristirahatan sementara di dunia ini.
  2. Sambutan dari haha doli dan anggi doli sepakat menetapkan siapa juru bicara atau parhata ni hasuhuton.
  3. Juru bicara hasuhuton menerima kepercayaan itu dan sekaligus meminta kepada hasuhuton tentang riwayat hidup dan konsep rencana dari hasil pasada tahi.
  4. Suhut paidua menyampaikan riwayat hidup singkat almarhum dan hasil konsep rencana dari pasada tahi.
  5. Juru bicara hasuhuton meminta saran dan pendapat mengenai pemberangkatan almarhum dari : (a) Boru/bere (b) Dongan tubu (c) Dongan sahuta
  6. Juru bicara hasuhuton merangkum pendapat dan saran dari boru/bere, dongan tubu dan dongan sahuta, serta meminta bimbingan dan nasehat dari hula hula dan tulang dengan permohonan agar : (a) Suami meninggal : ulos saput dari tulang pamupus, ulos tujung ni ina na mabalu dari hula hula tangkas. atau (b) Isteri meninggal : ulos saput dari hula hula tangkas, ulos tujung ni ama namabalu dari tulang pamupus.
  7. Sambutan dan bimbingan dari hula hula dan tulang
  8. Juru bicara hasuhuton merangkum pendapat dan meminta agar boru yang menjadi notulis membacakan hasil na marrapot.
  9. Setelah selesai dibacakan oleh boru dan telah disepakati bersama untuk dilaksanakan, maka juru bicara hasuhuton mengajak hadirin terutama hula hula dan tulang untuk makan bersama (mardaon pogu).


Memasukkan jenazah kedalam peti mati (Masuk tu ruma-rumana)
  1. Juru bicara hasuhuton meminta kepada hadirin terutama kepada tulang pamupus/hula hula tangkas agar masuk kerumah untuk mengikuti acara memasukkan jenazah almarhum ke peti mati.
  2. Boru/bere dongan sabutuha yang masih muda memasukkan jenazah ke peti mati.
  3. Juru bicara hasuhuton meminta hula hula dan tulang terlebih dahulu memeriksa letak jenazah apakah sudah baik.
  4. Tulang dan hula menyatakan letak jenazah sudah tepat.
  5. Ditutup dengan nyanyian dan doa oleh tulang/hula hula


Pasahat Ulos Saput
  1. Dilaksanakan pagi hari sekitar jam 09.00 – 10.30 WIB.
  2. Kalau suami yang meninggal, tulang pamupus yang memberikan ulos saput. Kalau isteri yang meninggal hula hula yang memberikan ulos saput.
  3. Rombongan hula hula/tulang tiba dirumah duka
  4. Suhut paidua menyambut rombongan hula hula/tulang dengan mengatakan kesediaan hasuhuton menerima hula hula/tulang. Boru diminta untuk menerima boras sipir ni tondi yang dibawa rombongan hula hula/tulang.
  5. Diawali dengan bernyanyi dan berdoa setelah itu.
  6. Hula hula/tulang menyampaikan sepatah dua patah kata dan menyelimutkan ulos saput ke jenazah, mulai dari kaki sampai ke dadanya.
  7. Sepatah dua kata dari boru/bere.
  8. Sepatah dua kata dari dongan tubu ni hula hula/tulang.
  9. Sambutan (mangampu) dari hasuhuton.
  10. Suhut paidua mengajak rombongan hula hula/tulang untuk makan bersama (mardaon pogu)


Pasahat Ulos Tujung
  1. Penyampaian ulos tujung dilaksanakan setelah selesai acara pasahat ulos saput.
  2. Kalau suami meninggal : hula hula tangkas yang memberikan ulos tujung kepada istri yang mabalu. Kalau istri yang meninggal tulang pamupus yang memberikan ulos tujung ke suami yang mabalu.
  3. Rombongan hula hula/tulang sampai dirumah duka. Suhut paidua menyambut hula hula/tulang dengan mengatakan kesediaan hasuhuton menerima hula hula/tulang. Boru diminta menerima boras sipir ni tondi yang dibawa rombongan hula hula/tulang.
  4. Diawali dengan bernyanyi dan doa, setelah itu
  5. Hula hula/tulang menyampaikan sepatah dua kata dan menunjukkan ulos tujung ke kepala boru/berenya.
  6. Sepatah dua kata dari boru/bere
  7. Sepatah dua kata dari dongan tubu ni hula hula/tulang
  8. Sambutan (mangampu) dari hasuhuton
  9. Suhut paidua mengajak rombongan hula hula/tulang untuk makan bersama (mardaon pogu).


Pemberangkatan ke Pemakaman (Parborhathon tu Udean)
  1. Pembukaan (hata huhuasi) dari suhut paidua
  2. Pembacaan riwayat hidup oleh saudara dekat
  3. Kata kata penghiburan dari : boru/bere, dongan tubu, dongan sahuta, sahabat/teman sejawat, pemerintah setempat (RT/RW), bona tulang, tulang rorobot, hula hula/tulang, tulang/ hula hula.
  4. Kata sambutan (mangampu) dari hasuhuton


Acara agama
Diatur dan dilaksanakan oleh pemuka agama


Acara di Pemakaman
Acara dipemakaman diatur dan dilaksanakan oleh pemuka agama. Setelah acara agama dan penguburan selesai maka suhut paidua menyampaikan ucapan terima kasih dan mengundang hadirin bersama-sama kerumah, terutama hula hula dan tulang untuk melanjutkan acara buka tujung.


Acara Ungkap Tujung
Setelah kembali dari pemakaman, hasuhuton, dongan tubu, boru/bere dan dongan sahuta terutama hula hula dan tulang, dipersilahkan masuk kerumah, serta suhut paidua mengatur tempat duduk. Kemudian acara dimulai dengan susunan sebagai berikut :
  1. Juru bicara hasuhuton diberitahukan bahwa acara sudah bisa dimulai
  2. Hula hula/tulang terlebih dahulu meminta kesepakatan atas acara yang akan dilaksanakan, hanya ungkap tujung saja. Memberi kata-kata penghiburan sebaiknya pada waktu hari lain, pada saat kita dari masing-masing kelompok datang memberikan kata penghiburan (mangapuli).
  3. Juru bicara hasuhuton menyetujui usul dari hula hula/tulang
  4. Hula hula/tulang melaksanakan acara ungkap tujung dimulai dengan doa.
  5. Juru bicara hasuhuton menyampaikan terima kasih. Selanjutnya meminta boru/bere membawa makanan adat (sipangananon namargoar) untuk dihadapkan kepada hula hula/tulang.
  6. Hula hula/tulang menerangkan bahwa sipangananon namargoar ini adalah untuk semua, maka diletakkan ditengah-tengah saja.
  7. Juru bicara hasuhuton menyetujui dan meminta boru untuk diletakkan ditengah hadirin. Selanjutnya diminta salah seorang dari haha-anggi untuk memanjatkan doa makan.
  8. Selesai makan hula hula/tulang mengingatkan kesepakatan tadi bahwa pada kesempatan ini hanya acara ungkap tujung, maka kata-kata penghiburan akan dilaksanakan pada waktu lain.
  9. Juru bicara hasuhuton menyetujui, dan selanjutnya memohon kesediaan hula hula/tulang menutup acara dengan nyanyian dan doa.
  10. Hula hula menutup dengan nyanyian dan doa.


5. Pembagian Jambar Juhut
Tidak Ada

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah memberikan komentar.