Zaman dahulu orang Batak menggunakan ulos (kain) yang ditenun sendiri sebagai pakaian sehari-hari, baik laki-laki maupun perempuan sebagai penutup badan dan sebagai penghangat tubuh dan pelindung tubuh dari terpaan angin, panas matahari, udara dingin, hujan, dll.
Jika ulos dipakai laki-laki, maka bagian atas bahu disebut hande hande, bagian bawah (dada, perut, pinggul, dan paha) disebut singkot dan yang dipakai sebagai penutup kepala disebut tali-tali, bulang atau detar.
Bila ulos dipakai perempuan, maka yang dipakai dari bagian bawah sampai sebatas dada disebut haen, untuk penutup punggung disebut hoba-hoba dan dipakai sebagai selendang disebut sampe-sampe (sabe-sabe) serta yang dipakai sebagai penutup kepala disebut saong-saong.
Kalau seorang wanita/perempuan sedang menggendong anak, maka penutup punggung disebut hohop-hohop dan ulos yang dipakai menggendong anak disebut parompa.
Seiring dengan perkembangan teknologi dengan kemajuan zaman, ulos yang ditenun sendiri tidak lagi digunakan sebagai pakaian sehari-hari karena sudah diganti dengan memakai tekstil hasil tenunan mesin.
Pada daerah-daerah pedalaman terpencil, memang masih ada orang Batak yang memakainya, namun sudah sangat jarang terlihat. Sejak zaman dahulu hingga sekarang, pemakaian ulos sebagai pakaian, mematuhi aturan-aturan tertentu yang sudah baku, sehingga tidak semua jenis ulos yang dapat digunakan sebagai pakaian sehari-hari, dan beberapa diantaranya hanya dapat dipakai pada waktu-waktu tertentu saja.
Ada beberapa ragam/jenis ulos Batak yang diberi nama :
- Ulos jugia atau pinunsan atau disebut juga ulos nasora pipot/buruk
- Ulos ragi hidup
- Ulos ragi hotang
- Ulos sadum
- Ulos runjat
- Ulos sibolang
- Ulos suri-suri ganjang
- Ulos mangiring
- Ulos bintang maratur
- Ulos jungkit
- Ulos sitoluntuho
- Jenis ulos Batak yang sudah langka antara lain :
Ulos ragi hatilongga, ulos ragi panei, ulos ragi lantar, ulos ragi sapot, ulos ragi siimput nihirik, ulos bolean, ulos padang rusa, ulos simata, ulos hampu (happu), ulos tungku (tukku), ulos lobu-lobu, dan lain-lain sebagainya.
Tata cara pemberian atau penyampaian ulos pada seseorang harus sesuai dengan aturan yang sudah baku yaitu sesuai kedudukan dan tingkat pemberi dan penerima ulos menurut dalihan natolu. Demikian juga pemakaian ulos harus menurut syarat-syarat tertentu, misalnya :
- Pemakaian ulos jugia misalnya hanya boleh digunakan dan dipakai oleh mereka yang disebut “ na gabe”, yakni mereka yang secara sempurna saurmatua atau mereka yang seluruh putra dan putrinya telah gabe (sudah ada cucu dari semua putera puterinya) atau mereka yang dituakan dan dihormati oleh satu marga atau ompu. Ulos ini biasanya disimpan sebagai pusaka atau “homitan”.
- Pemakaian dan penggunaan ulos ragi idup dapat digunakan untuk acara suka cita dan dapat juga digunakan dalam acara duka cita. Pada acara suka cita sering digunakan sebagai ulos pansamot / ulos pargongon dan dipakai juga oleh orang yang telah saurmatua.
- Ulos mangiring memiliki ragi yang saling iring mengiring melambangkan kesuburan dan persatuan yang teguh, diberikan oleh orangtua kepada cucunya sebagai ulos parompa. Ulos ini juga sering dipakai pada pria sebagai tali-tali atau detar. Dan sering juga perempuan memakainya sebagai saong-saong atau tudung.
- Ulos bintang maratur disebut demikian karena raginya menggambarkan deretan bintang yang teratur yang melambangkan keeratan persatuan keluarga yang rukun, sama-sama memiliki kekayaan yang setara serta sama-sama orang yang terpandang dan dihormati masyarakat. Penggunaannya dapat dipakai sebagai saong-saong oleh perempuan.
- Ulos sitolontuho biasanya hanya dipakai oleh pria sebagai ikat kepala dan oleh perempuan dipakai sebagai selendang. Ulos ini dapat juga diberikan dan digunakan sebagai parompa jika ada bayi yang baru lahir.
- Ulos ragi hotang diberikan dan digunakan sebagai ulos hela dengan harapan agar suami dan isteri (pengantin) terikat dengan erat dan teguh dalam rumah tangga, kuat/teguh seperti rotan.
- Ulos sadum penuh dengan warna warni dan ceria hingga sangat cocok dipakai pada saat suka cita dan belakangan ini juga digunakan sebagai ulos substitusi ragi hotang.
- Ulos runjat biasanya dipakai oleh orang yang terpandang sebagai ulos edang-edang, dan dapat juga diberikan kepada pengantin oleh keluarga dekat dari hasuhuton, misalnya tulang, pamarai, simandokhon dan pariban serta dapat juga digunakan pada acara suka cita mangupa-upa. Sebagai hande-hande pada acara margondang. Ulos ini disebut ulos suri-suri ganjang karena raginya berbentuk sisir yang memanjang dan disebut juga sebagai ulos sabe-sabe dan ukurannya melebihi ukuran panjang semua ulos batak.
- Ulos jungkit yang disebut juga ulos na ningdongdang atau ulos purada atau permata karena berhiaskan purada atau permata. Ulos ini dahulu hanya dipakai anak gadis dari para ningrat atau keturunan raja-raja sebagai hoba-hoba atau kain yang dipakai dari batas kaki sampai batas dada sebagai lambang status pemakaiannya.
- Ulos lain-lain masih ada beberapa jenis lagi, akan tetapi sudah jarang terlihat atau langka, sudah sangat jarang dipakai orang dalam acara-acara adat, sehingga banyak orang tidak mengenalnya lagi. Penggunaan ulos lobu-lobu misalnya digunakan dan diberikan untuk keperluan khusus bagi orang yang sering dirundung kemalangan karena kematian anak (tilahaon).
Jenis Ulos yang dipakai dalam berbagai acara adat
1. Bagi mereka yang dituakan, misalnya Ketua Marga, Ketua Parsahutaon, Natua tua na Gabe, Ulos yang dipakai sebaliknya :
- Suami
Hoba hoba : Ulos Ranjat, ulos pinunsaan, ulos jugiaSampe-sampe : ulos idupTali-tali padang rusa atau mangiring sirara
- Isteri
Hoba-hoba : Ulos ronjatSampe sampe : ulos ragi idup
2. Bagi mereka yang diakui sebagai “orang tua atau yang dituakan dalam suatu lingkungan”, sebaiknya menggunakan ulos sebagai berikut.
- Suami
Hoba-hoba : Ulos pinunsaan,Sampe-sampe : Ulos ragi idup, ulos ragi hotang
- Isteri
Hoba-hoba : Ulos sibolangSampe-sampe : ragi idupTali-tali : Ulos mangiring sirara
3. Untuk masyarakat umum :
- Suami
Hoba-hoba : ulos sibolang, ulos ragi hotangSampe-sampe : ragi hotang, sitoluntuhoTali-tali : Ulos mangiring sirara
- Isteri
Hoba-hoba : Ulos SibolangSampe-sampe : ragi idup
4. Ulos saluran berkat (Ulos pasu-pasu) kepada pengantin.
Ulos pansamot : Ulos ragi idupUlos hela : Ulos runjat, Sibolang, bintang maratur sitoluntoho na gokUlos pamarai : ulos sibolang, ulos bintang maraturUlos dari tulang : Runjat marsisi, Ulos sibolang, pamaraiUlos dari ibotonya : Ulos mangiring, Ulos bintang maraturUlos dari pariban : Ulos situlontuho, ulos bintang maratur
5. Selebihnya, disesuaikan dengan ulos yang diberikan Pamarai, Tulang, Ibotonya dan Pariban sesuai kedudukannya dalam pesta yang di hadiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah memberikan komentar.